KUBU RAYA,SP - Wakil Bupati Kubu Raya, Sukiryanto, secara resmi menutup rangkaian kegiatan Naik Dango ke-41 yang digelar di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Selasa malam (28/4).
Penutupan berlangsung meriah dan penuh khidmat, menandai berakhirnya salah satu tradisi adat penting masyarakat Dayak.
Dalam sambutannya, Sukiryanto menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia pelaksana, tokoh adat, serta seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi aktif dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Naik Dango bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh selama satu tahun terakhir.
“Naik Dango adalah warisan budaya leluhur yang memiliki makna mendalam. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk rasa syukur, kebersamaan, dan identitas masyarakat Dayak yang harus terus kita jaga dan lestarikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus modernisasi. Menurutnya, pelestarian budaya seperti Naik Dango memiliki peran strategis dalam memperkuat jati diri daerah sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Kubu Raya.
“Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan adat dan budaya. Ini bukan hanya soal melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi potensi besar dalam menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” tambahnya.
Perayaan Naik Dango ke-41 di Desa Lingga tahun ini berlangsung semarak dengan berbagai rangkaian kegiatan adat dan budaya, mulai dari ritual adat sebagai bentuk syukur atas hasil panen, pertunjukan tarian tradisional Dayak, musik daerah, hingga pameran hasil pertanian dan produk lokal masyarakat.
Kehadiran masyarakat dari berbagai daerah turut menambah semarak suasana. Tidak hanya masyarakat lokal, sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan juga hadir menyaksikan langsung prosesi adat yang sakral tersebut.
Ketua panitia pelaksana, Lorensius, menyampaikan bahwa pelaksanaan Naik Dango tahun ini berjalan lancar berkat dukungan berbagai pihak. Ia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah, tokoh adat, sponsor, serta masyarakat yang telah bahu-membahu menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini adalah milik bersama. Tanpa dukungan semua pihak, tentu tidak akan berjalan dengan baik. Semoga ke depan Naik Dango dapat terus dilaksanakan dengan lebih baik dan lebih meriah,” ujarnya.
Naik Dango sendiri merupakan tradisi tahunan masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kanayatn, sebagai bentuk syukur atas hasil panen padi. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga sarana mempererat solidaritas sosial, menjaga nilai-nilai budaya, serta memperkuat hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Dengan berakhirnya Naik Dango ke-41 di Desa Lingga, diharapkan semangat kebersamaan dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup serta diwariskan kepada generasi muda, sehingga tradisi ini tidak lekang oleh waktu. (mar)